Festival dan Tradisi Unik di Pasuruan yang Masih Dilestarikan Hingga Kini –Kota Pasuruan, yang terletak di pesisir utara Jawa Timur, dikenal bukan hanya sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi juga sebagai kota yang kaya akan tradisi dan budaya lokal. Julukan “Kota Santri” mencerminkan kuatnya nilai religius masyarakatnya, sementara letaknya yang strategis di antara Surabaya dan Probolinggo menjadikannya pusat interaksi berbagai budaya Jawa dan Madura.
Warisan budaya Pasuruan tidak hanya terlihat dari peninggalan sejarah dan arsitektur kolonialnya, tetapi juga dari festival dan tradisi lokal yang masih hidup dan dijaga oleh masyarakat hingga hari ini.
Salah satu festival paling terkenal di Kabupaten Pasuruan adalah Festival Siraman Sedudo Nongkojajar, yang biasanya digelar setiap tahun di kawasan pegunungan Nongkojajar, Kecamatan Tutur.
Festival ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi dan sumber air yang melimpah. Upacara ini dipusatkan di Sumber Air Sedudo, tempat masyarakat melakukan “siraman” atau penyiraman air suci sebagai simbol pembersihan diri dan doa untuk kesejahteraan.
Tradisi ini menjadi daya tarik wisata budaya karena memadukan unsur spiritual, sosial, dan keindahan alam pegunungan Pasuruan.
Pasuruan dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Timur, dan hal ini tercermin dalam perayaan Haul Habib Hasan bin Thohir Al-Hadad, seorang ulama besar yang dimakamkan di Kelurahan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.
Acara haul ini dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara. Tradisi ini bukan hanya sekadar kegiatan ziarah, tetapi juga menjadi momen silaturahmi, dakwah, dan refleksi spiritual.
Haul ini menunjukkan betapa kuatnya identitas religius masyarakat Pasuruan, serta semangat menjaga ajaran Islam dengan penuh cinta dan damai.
Di wilayah pesisir utara Pasuruan, khususnya Kecamatan Lekok, terdapat tradisi tahunan yang disebut Petik Laut Lekok. Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur nelayan kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah dan harapan agar rezeki di laut tetap terjaga.
Upacara ini biasanya dilakukan pada bulan Suro (Muharram) dalam kalender Jawa. Puncak acaranya adalah prosesi larung sesaji ke tengah laut, yang diiringi oleh perahu-perahu hias dengan warna mencolok dan tabuhan gamelan.
Selain upacara adat, festival ini juga diisi dengan:
Tradisi ini bukan hanya pesta bagi nelayan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata bahari yang ramai dikunjungi masyarakat lokal maupun wisatawan.
Pasuruan, terutama daerah Grati dan Wonorejo, memiliki tradisi unik yang disebut Sapi Sono, yaitu kontes kecantikan sapi betina Madura. Sapi-sapi ini dirias dan dihias dengan kain warna-warni, kalung lonceng, hingga hiasan emas.
Tradisi ini berasal dari budaya Madura yang dibawa oleh para perantau di wilayah Pasuruan. Selain hiburan, Sapi Sono juga mencerminkan nilai kebanggaan, kerja keras, dan estetika masyarakat agraris.
Acara ini biasanya dimeriahkan dengan musik saronen khas Madura, sorak penonton, dan semangat kompetisi antar-peternak.
Seperti banyak daerah lain di Jawa, masyarakat Pasuruan juga memiliki tradisi Grebeg Suro, yang menandai pergantian tahun baru Islam (1 Muharram).
Perayaan ini diadakan di berbagai kecamatan, seperti Bangil, Prigen, dan Pasuruan Kota.
Tradisi ini melambangkan pembersihan diri dan doa untuk keselamatan di tahun baru. Warga membawa “gunungan” berisi hasil bumi, yang kemudian diarak dan didoakan bersama di alun-alun.
Grebeg Suro menjadi contoh nyata bagaimana agama, budaya, dan kebersamaan masyarakat Pasuruan berpadu harmonis.
Di berbagai desa di Pasuruan, khususnya di wilayah pedesaan seperti Puspo, Lumbang, dan Gempol, terdapat tradisi Nyadran yang dilakukan menjelang bulan Ramadan. Nyadran merupakan kegiatan membersihkan makam leluhur, berdoa bersama, dan makan tumpeng bersama.
Tradisi ini menanamkan nilai:
Hingga kini, Nyadran masih menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Jawa Timur, khususnya di Pasuruan.
Meskipun modernisasi dan industrialisasi berkembang pesat di Pasuruan, masyarakatnya tetap memegang erat nilai-nilai tradisional.
Pemerintah daerah bersama komunitas budaya juga aktif menggelar Festival Budaya Pasuruan, untuk melestarikan tradisi, menghidupkan pariwisata, dan memperkuat identitas lokal.
Bahkan beberapa sekolah di Pasuruan telah memasukkan muatan lokal budaya daerah dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti tari tradisional, hadrah, dan batik Pasuruan.
Festival dan tradisi unik di Pasuruan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga cerminan kearifan lokal, keagamaan, dan kebersamaan masyarakat.
Dari Petik Laut hingga Grebeg Suro, semua memiliki makna mendalam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan tetap menjaga dan merayakan budaya-budaya ini, Pasuruan tidak hanya melestarikan sejarah, tetapi juga memperkuat jati dirinya sebagai kota yang kaya akan nilai, harmoni, dan tradisi luhur.
Jika Anda merencanakan kunjungan ke Kota Pasuruan baik untuk wisata, bisnis atau sekadar transit Java Mulia Homestay Syariah bisa menjadi pilihan yang sangat tepat: lokasi strategis, fasilitas nyaman, harga bersaing, dan nilai syariah jelas. Jangan lewatkan kesempatan untuk menginap di tempat yang bisa memberikan kenyamanan, ketenangan, dan pengalaman yang menyenangkan. Ayo, pesan sekarang! Temukan kamar yang sesuai kebutuhan Anda dan nikmati pengalaman menginap yang berbeda di Kota Pasuruan bersama Java Mulia Homestay Syariah.
WhatsApp us